Wajib Tau!! Difteri dari Gejala, Penyebab, Pancegahan, dan Pengobatannya

Penyakit Difteri.- Penyakit ini ada sudah sejak lama, sempat menghilang, dan muncul kembali. Dari Kajian WHO (World Health Organization) pada tahun 2016 dari 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia, 99% orang yang terkena penyakit Difteri adalah orang yang  tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Dalam kasus ini Indonesia turut menyumbang 342 kasus didalamnya.

Setelah mengilang lama akhirnya pada tahun 2017 lalu penyakit ini menjadi sebuah penyakit yang mewabah dan pernah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh kementerian kesehatan.

Kemudian memasuki tahun 2018 penyakit Difteri terus ditekan dengan melakukan langkah-langkah pengobatan dan pencegahan yang cepat dan tepat oleh seluruh jajaran instansi kesehatan, khususnya oleh pemerintah.

Dalam beberapa peristiwa sebagian orang masih bingung / agak sulit membedakan terhadap gejala penyakit ini, karena memiliki beberapa kesamaan gejala dengan penyakit seperti radang tenggorokan dan radang amandel yang sama sama menyerang daerah tenggorokan dan daerah amandel.

Untuk lebih jelasnya berikut  Penyebab, Gejala, Pancegahan, dan Pengobatannya:

Gambar diambil dari www.immunize.org
Apakah Itu Penyakit Difteri dan Penyebabnya

Penyakit Difteri merupakan sebuah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dan menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit.

Bakteri Corynebacterium bisa menghasilkan racun yang berbahaya. Jika racun tersebut tidak bisa dikendalikan dan menyebar keseluruh tubuh bisa sangat membahayakan keselamatan dan kondisi tubuh penderita penyakit tersebut.


Penularan Penyakit Difteri

Penyakit ini mudah sekali menular, karena media yang digunakan adalah udara. Cara yang paling umum adalah terhirupnya percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. 

Selain udara sebagai media penyebarannya, penyakit Difteri dapat juga menyebar melalui benda-benda pribadi serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi bakteri tersebut, seperti Handuk, tisu bekas orang yang terinfeksi, makan atau minum dari bekas gelas atau piring yang digunakan penderita sebelum mencucinya terlebih dahulu, dan sejenisnya.

Penyakit difteri bisa terjadi atau menular juga jika kita bersentuhan dengan kulit penderita yang terkena infeksi (luka Borok-ulkus).

Dalam kondisi seperti ini seseorang sangat rentan akan tertular jika berinteraksi langsung dengan penderita tanpa alat pelindung diri.

Penyebaran atau penularan penyakit dapat terjadi sangat cepat bahkan menjadi sebuah wabah, pada orang-0rang atau penduduk yang padat namun dengan tingkat kebersihan yang minin atau tidak terjaga.


Tanda dan Gejala Difteri

Masa Inkubasi Difteri sebagai rentang waktu bagi bakteri menunjukkan sebuah tanda dan gejala yang ditimbulkannya hingga nampak atau terlihat dibutuhkan dalam waktu 2 (dua) hingga 5 (lima) hari.

Gejala umum yang dapat dilihat kondisi badan yang lemah lesu, demam tinggi bahkan hingga menggigil, serta sakit tenggorokan dan terbentuknya sebuah lapisan tebal berwarna abu-abu di amandel dan tenggorokan, sehingga bisa menimbulkan pembengkakan kelenjar pada leher, kesulitan menelan, suara serak dan sulit bernapas.

Dan Dalam kasus yang parah Difteri tersebut dapat menyerang organ tubuh yang lain seperti jaringan Saraf dan Jantung. Dan tak jarang juga pada orang-orang tertentu bisa menyebabkan infeksi kulit.

Untuk prosesnya, biasanya gejala awal adalah terlihatnya kondisi penderita dengan tubuh yang lemah lesu, radang tenggorokan, dan demam tinggi bahkan hingga menggigil.

Karena bakteri mulai masuk, memproduksi racun dan mengeluarkan, maka timbulah sebuah lapisan abu-abu tebal yang disebut dengan pseudomembrane di selaput lendir sepanjang sistem pernapasan yang dapat merusak jaringan dan sel-sel sehat pada sistem pernapasan tersebut. Kondisi ini biasanya terjadi dalam 2-3 hari setelah paparan infeksi pertama kali.

Jaringan pseudomembrane tersebut dapat menimbulkan kesulitan bernapas atau bahkan menelan karena jaringan tersebut memiliki karateristik sangat tebal hingga dapat menutupi jaringan hidung, amandel, kotak suara, dan tenggorokan

Dalam kondisi yang lebih buruk lagi, penyakit ini bisa menyebar mengakibatkan infeksi kulit yang nampak dengan timbulnya  kemerahan, bengkak, dan terasa sakit bila disentuh bahkan bisa saja terjadi timbulnya luka basah seperti borok (ulkus) yang akan meninggalkan bekas.

Dalam kasus yang lain, racun bakteri difteri ini dapat merusak saraf, jantung dan ginjal dari proses penyebarannya melalui aliran darah.


Pencegahan Penyakit Difteri

Mungkin bagi yang belum atau tidak mengalaminya, kita harus bisa melakukan antisipasi untuk mencegah penyekit difteri menyerang, baik pencegahan untuk diri sendiri ataupun orang-orang yang kita sayangi.

Caranya adalah dengan mengendalikan lingkungan kita agar tetap terjaga kebersihannya. 

Namun dari segi medis, pencegaha dapat dilakukan semenjak dini dengan pemberian imunisasi atau vaksin Difteri.

Vaksin Difteri dkenal dengan sebutan Vaksin DPT atau DTP  (Difteri, Pertusis/batuk rejan, dan Tetanus).

Dalam pemberian Vaksin DPT bagi anak, akan sangat efektif diberikan sebanyak lima kali yaitu pada usia usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4-6 tahun.

Dan untuk selanjutnya anak jika usia anak sudah menginjak 7 tahun dan dewasa biasanya diberikan booster vaksinasi yaitu dengan vaksinasi Td atau Tdap untuk tetap dapat melindungi si anak dari tetanus, difteri, dan pertusis. Untuk Pemberian Vaksin ini akan sangat baik dilakukan ulang setiap 10 tahum sekali.

Jika Vaksin pada anak tidak dilakukan secara lengkap, vaksin tidak bisa diberikan seperti pada jadwal anak pada umumnya, namun dalam hal ini bisa dilakukan vaksinasi dengan anjuran dokter sebagai vaksinasi kejaran.


Pengobatan Penyakit Difteri

Jika seseorang terlanjur terkena penyakit difteri, langkah yang paling baik adalah mengobatinya. Untuk melakukan langkah ini, yang pertama kali dilakukan adalah dengan mencegah penyebaran pnyakit ini terhadap orang lain terlebih dahulu, baru dilakukan pengobatan terhadap penderitanya.

Pengobatan yang paling baik adalah melakukan pengobatan medis baik ke dokter atau rumah sakit yang kompeten menangai hal ini.

Biasanya yang dilakukan oleh dokter adalah memberikan suntikan anti toksin untuk melawan racun yang menyerang. Kemudian tindakan berikutnya adlah memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Dan selanjutnya diberikan sebuah imunisasi dosis pendorong (boost immunisation).

Untuk melakukan itu semua, biasanya pasien tidak dapat hanya melakukan berobat jalan, melainkan harus mendapatkan perawatan khusuh dengan terapi yang tepat yang dapat dilakukan memalui Rawat Inap dalam sebuah rumah sakit.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close