Vaksin Difteri dari Jenis Vaksin, Waktu Pemberian, Manfaat dan Efek Samping,

avitaliahealth.com - Penyakit Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacteriun diphteriae. Bakteri Difteri ini dapat mengasilkan sebuah toksin yang dapat menimbulkan sebuah selaput yang menyumbat pernafasan. Dan selanjutnya bisa beredar ke dalam aliran darah yang dapat menimbulkan komplikasi lain seperti miokarditis sebuah radang yag terjadi pada jantung, dan kelainan darah berupa penurunan jumlah trombosit (trombositopenia).

Ciri yang khas dari penyakit ini adalah adanya sebuah lapisan atau selaput berwarna abu-abu di tenggorokan dan akan mudah berdarah jika dilepaskan, serta menimbulkan sakit ketika menelan. Juga sering disertai kondisi tubuh yang lemas, demam yang tinggi bahkan bisa menggigil.


Jika penyakit ini tidak segera teratasi, akibat yang paling parah yang dapat timbul adalah menyebabkan penderita meninggal Dunia atau kematian.

Pada beberapa waktu yang lalu, penyakit Difteri pernah menjadi wabah dan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Hal ini menyiratkan bahwa pemerintah dalam programnya untuk pencegahan difteri belum memenuhi target.

Dari kajian yang dihimpun oleh WHO (World Health Organization) pada tahun 2016 dari 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia, 99% orang yang terkena penyakit Difteri adalah orang yang  tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap dan sekitar 342 kasus di dalamnya adalah berasal dari Indonesia.

Dengan adanya kejadian tersebut, lantas pemerintah mengambil langkah mempercepat program imunisasi difteri agar memenuhi target sehingga kasus mewabahnya Penyakit Difteri di Indonesia tidak terulang lagi.


Penyakit Difteri dalam banyak kejadian sering menimpa pada anak, ini tidak berarti bahwa orang dewasa yang sebelumnya tidak terkena difteri secara otomatis dari penyakit ini.

Oleh karena itu Penyakit Difteri yang pencegahannya dapat dilakukan dengan Vaksinasi haruslah dilakukan secara menyeluruh baik baik anak maupun dewasa.


Mengapa Vaksinasi atau Imunisas terhadap Difteri Perlu dilakukan (Manfaatnya)?

Secara umum Imunisai atau pemberian vaksinasi bertujuan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Jika anda mendapatkan vaksinasi Difteri berarti tubuh anda diberi sebuah imun atau kekebalan terhadap bakteri difter yang mungkin akan menyerang.

Selain itu juga dengan melakukan imunisai atau pemberian vaksinasi berarti kita juga mencegah terjadinya penyebaran penyakit tersebut lebih luas.

Mungkin anda masih kawatir melakukan vaksinasi. Anda tidak perlu kawatir, karena vaksinasi ini aman baik bagi anak maupun bagi orang dewasa.

Efek samping yang didapat biaanya jarang sekali terjadi, mungkin hanya sifatnya ringan seperti demam. Demam ini menandakan bahwa tubuh beraksi terhadap vaksin yang diberikan.

Jenis Vaksin dan Waktu Pemberian

Vaksinasi Difteri merupakan salah satu program nasional yang di rekomendasikan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) sehingga Vaksin ini menjadi jadwal wajib dalam imunisasi dasar diberikan bagi anak.

Juga wajib bagi orang dewasa dengan kriteria
  • Belum pernah menerima vaksinasi Tdap.
  • Orangtersebut lupa apakah ia sudah diberikan vaksinasi atau belum.
  • Petugas kesehatan yang melakukan kontak langsung dengan pasien.
  • Orang yang merawat bayi di bawah umur 1 tahun, termasuk orang tua, kakek-nenek, dan pengasuh bayi.
  • Orang yang bepergian ke berbagai wilayah yang termasuk penyebaran difteri.
  • Orang yang tinggal serumah, tetangga, pernah/akan menengok penderita difteri.
  • Calon ibu yang belum pernah melakukan vaksinasi.
  • Bagi Ibu hamil- booster Tdap dianjurkan untuk diberikan pada tiap kehamilan

Untuk Melakukan imuniasai difteri tidak ada persiapan khusus, namun hal yang wajib diketahui adalah informasi mengenai alergi dan kondisi kesehatan penerima vaksin, untuk menghindari efek samping yang berbahaya.

Pemberian vaksin difteri hampir sama dengan vaksin yang umumnya, yaitu diberikan melalui suntikan. Biasanya pemberian suntikan ini antara anak dan dewasa vaksin disuntikkan pada bagian lengan atas. Lokasi penyuntikan pada anak biasanya dilakukan pada otot bagian paha, sedangkan untuk Remaja dan dewasa dilakukan pada lokasi diatas lengan 

Untuk Jenis dan waktu pemberian vaksinasi antara anak dan dewasa terdapat perbedaan. Jenis vaksin Difteri merupakan sebuah vaksin yang kombinasikan dengan vaksin penyakit lain seperti tetanus dan pertusus (batuk rejan).
  • Untuk awal pemberian vasinasi difteri dilakukan pada usia 2 bulan atau paling cepat pada usia 6 minggu dan dilanjutkan pada umur 3 dan 4 bulan dengan menggunakan vaksin DTP yang merupakan vakin kombinasi untuk pencegahan  difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertussis). 
  • Namun jika jenis vaksin yangdiberikan adalah Jenis vaksin DTaP, imunissi atau vaksinasi dilakukan pada umur 2, 4, dan 6 bulan.
  • Selanjutnya, jika anak sudah memasuki usia 7 tahun ke atas akan diberikan booster vaksinasi difteri dengan vaksin Tdap atau Td pada usia 10-12 tahun.
  • Lalu kemudian akan diberikan kembali vaksin booster mulai usia 18 tahun dan diulang setiap 10 tahun sekali dengan vaksin Td.

Lalu bagaimana untuk yang tidak tepat waktu atau lupa melakukan imunisai. Jangan kawatir, imunisasi tetap dapat dilakukan dengan sistem imunisasi difteri kejaran dengan berkonsultasi ke dokter kapan dapat dilakukan untuk dijadwalkan pemberian vaksinnya.

Juga untuk wanita hamil baik yang belum ataupun tidak mengetahui akan vaksin ini disarankan agar menerima vaksin booster Tdap pada trisemester akhir

Perbedaan Vaksin Difteri DTaP-Tdap, dan DT- Td

Sekilas sebagai awan di dunia kesehatan melihat jenis-jenis vaksin difteri terasa membingungkan, karena komponen huruf yang tertera didalamnya sama namun memiliki komponen besar kecil yang berbeda-beda dan diberikan pada waktukhusu yang berbeda pula.

Sebenarnya singkatan dari huruf yang ada adalah
  • D untuk Difteri (toksoid difteri)
  • T untuk Tetanus (toksoid tetanus)
  • P untuk Pertusis 
  • aP untuk acellular pertusis (antigen bakteri pertusis)
Untuk mengetahui secara dasar, bahwa huruf "a" kecil merupakan sebuah tanda bahwa sel bakteri pertusis yang ada didalamnya hanyalah sebagian atau tidak utuh yang berisi sedikit antigen saja yang diperlukan dengan tujuan mengurangi efek samping yang berlebihan yang dapat menimbulkan reaksi  panas tinggi, bengkak, merah, nyeri ditempat suntikan jika diberikan secara utuh (ribuan)-whole  ( untuk bentuk yang utuh sering disingkat dengan DTwP).

Kemudian unsur untuk Difteri dan Tetanus, dapat dibedakan berdasarkan hufuf kecil dan huruf besar (kapital).

Huruf besar “D” dan “P” memiliki arti pada vaksin tersebut mengandung toksoid difteri (D) dan antigen pertusis (P) dengan jumlah atau kadar yang tinggi.  Sedangkan pada vaksin berhuruf kecil (“d” “p”) memiliki arti memiliki kadar yang rendah

Dalam penulisannya Vaksin dengan jumlah kadar yang tinggi khususnya Difteri(D) atau Huruf Besar selalu diletakkan paling depan, dan diikuti dengan vasksin dengan kadar rendah yang lain. contohnya adalah vaksin DT yang menjadi Td ketika kandungan toksoid difterinya rendah, bukan ditulis dT.

Untuk semua vaksin yang berkadar denda seperti "d","p", biasanya digunakan sebagai penguat tambahan/ booster vaksinasi untuk diatas 7 tahun.

Dan untuk pemberiannya vaksin -vaksin tersebut terbagi menjadi 5 Jenis
  • Pada usia di bawah 7 tahun, vaksinasi yangdi berikan biasanya adalah vaksinasi "DTP"  yang difungsikan untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis.
  • DTaP merupakan vaksinasi yang sama dengan DTP  yang membedakan hanyalah pada kadar antigen pertusisnya yang lebih rendah diharapkan dapat mengurangi efek samping dari vaksin.
  • DT ditujukan pada anak usia dibawah 7 tahun khusus untuk mencegah penyakit difteri dan tetanus.
  • Pada anak-anak dan orang dewasa mulai usia 11-64 tahun, Tdap dapat diberikan sebagai vaksin booster untuk mencegah tetanus, difteri, dan batuk rejan.
  • Pada Remaja dan dewasa juga diberikan booster vaksin  "Td" kembali untuk mencegah tetanus dan difteri dan disarankan untuk dilakukan sekali tiap 10 tahun

Efek Samping dari Imunisasi difteri

Dari bermacam imunisasi, imunisasi jenis ini atau imunisasi difteri yang sering meninggalkan bekas pada tubuh yang bisa menandalah bahwa orang tersebut sudah melakukan vaksin ini.

Namun secara umum efek samping sebagai reaksi terhadap vaksin yang masuk kedalam tubuh yang ditimbulkan merupakan efek yang ringan dan akan mereda dalam hitungan hari. seperti:
  • Nyeri, bengkak, atau kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot.
  • Lemas.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Nafsu makan menurun.
  • Rewel (pada anak-anak).

Efek demam yang terjadi bisa saja terjadi 1 hingga tiga hari tergantung dari kondisi penerima vaksin, untuk mengatasi hal tersebut, sediakan obat penurun panas dan penghilang nyeri seperti paracetamol dan sejenisnya.

Untuk hal hal yang tidak diinginkan, seperti bila bari panas tinggi dan tidak segera reda, atau menangis tak kujung henti karena efek dari vaksinasi ini, silahkan konsultasikan atau dibawa ke dokter yang berkompeten dibidangnya seperti dokter spesialis anak.

Atau mungkin juga jika setelah imunisasi terjadi alergi atau kejang atau  hal yang mencurugakan yang lainnya, silahkan juga konsultasikan kedokter untuk dapat mengevaluasi sebelum imunisasi lain atau kombinasi vaksinasi yang lain kembali.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close