Jadwal Imunisasi Anak Menurut IDAI-Terbaru

Imunisasi merupakan sebuah cara pencegahan atau pemberian kekebalan terhadap tubuh kita  terhadap virus suatu saat dapat dengan tiba-tiba menyerang tubuh kita.

Imunisasi dan vaksinasi sering kita anggap sebai sebuah hal yang sama, tetapi sebenarnya vaksinasi dan imunisasi berbeda tetapi saling mwmbweikan keterkaitan.

Vaksinasi menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merupakan sesuatu/alat yang diberikan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh supaya kebal dari penyakit. Vaksin sendiri biasanya terbuat dari dari bibit penyakit (virus) yang telah dilemahkan yang bergunaa merangsang sistem imun dalam tubuh tanpa menimbulkan sebuah penyakit.

Sedangkan Imunisasi menurut WHO (World Health Organization) merupakan sebuah cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga kebal akan virus. dan bisanya hal tersebut dimaksudkan sebagai pencegahan terhadap penularan virus penyakit dari satu orang ke yang orang yang lainnya.

Nah bingung khan? Vaksinansi berbeda tapi sama...
Keduanya merupakan sebuah rangkain yang saling berkaitan dalam proses pencegahan sebuah penyakit.

Biasanya yang dinamakan vaksinasi adalah langkah awal dalam  memberikan sebuah Vaksin agar merangsang tubuh untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit tertentu. Selanjutnya barulah dilakukan Imunisasi sebegai cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh atau antibodi agar lebih kuat terhadap serangan penyakit.

Pentingnya Pemberian Vaksinasi dan Imunisasi

Karena Vaksniasi dan Imunisasi merupakan sebuah rangkaian untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit, sehingga Vaksinasi dan Imunisasi tersebut harus diberikan sejak seseorang tersebut masih kecil atau bayi.

Dalam kondisi normal, Vaksinasi dan Imunisasi ini dapat memberikan efek yang baik bahkan bisa memberikan hasil dengan efektifitas sebesar 90 sampai 100 persen, tergantung dari kondisi seseorang tersebut.

Dalam pembahasan/penelitian dari "American Society of Internal Medicine (Atlanta, USA)" di katakan bahwa Imunisasi/vaksinasi anak telah menyelamatkan lebih dari 2 juta kematian setiap tahunnya. Imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin jika dibandingan dengan vaksinasi/imunisasi pada anak.

Jadwal Imunisasi Anak Menurut IDAI

Dalam pemberian Imunisasi atau vaksinasi, IDAI (Ikatan Dokter anak Indonesia) telah memiliki ketentuan dalam jadwal pemberian Imunisasi tersebut terhadap anak dari 0 sampai 18 tahun.

Pemberian Vaksinasi dan Imunisasi sebaiknya diberikan dari sejak dini yaitu dari 12 Jam setelah lahir, sampai menginjak umur 18 tahun. Dalam memaksimalkan kerja vaksin tersebut akan sangat baik sekali bila dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Jadwal yang masih dipakai sampai dengan tahun ini (tahun 2018) adalah jadwal Imunisasi yang ditetapkan sebagai Jadwal Imunisasi tahun 2017.

Anda dapat melihat jadwal pemberian pada tabel gambar berikut ini.


Untuk memudahkan membaca tabel tersebut, anda bisa menyimak keterangan di bawah ini. Dan Lebih jelasnya, anda dapat meminta keterangan pada petugas-petugas yang berkompeten di dalamnya, seperti Dokter Anak, Dokter atau Bidan yang bertugas di Klinik KIA (kesehatan Ibu Anak) atau Klinik Imunisasi.

1. Jadwal Imunisasi Hepatitis B (HB)

Vaksin hepatitis B (HB) pertama (monovalen) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya.

Jadwal pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1, dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda.

Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian padausia 2, 3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2, 4, dan 6 bulan

Imunisasi ini memiliki fungsi sebagai pencegah terjadinya Penyakit Hepatitis B yang disebabkan oleh virus Hepatitis B yang menyerang sel-sel hati. Bila serangan ini berlangsung lama (kronis) dapat menyebabkan kanker hati dan dapat berakhir dengan kematian.

2. Jadwal Imunisasi Polio

Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV3

Imunisai tersebut dapat memberikan pencegahan terhadap Penyakit Polio yang disebabkan oleh virus polio yang menyerang pusat syaraf otot sehingga menyebabkan kelumpuhan otot yang menetap

3. Jadwal Imunisasi BCG

Pemberian Vaksin BCG (Bacille Calmette Guerin)  dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.

Imunisasi tersebut berfungsi dalam pencegahan Penyakit Tuberculosis (TBC) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan mycobacterium bovis. TBC paling sering menyerang paru, tetapi juga dapat menyerang otak, tulang, kelenjar dan lain-lain

4. Jadwal Imunisasi DTP / DPT

Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain.

Apabila diberikan vaksin DTPa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin tersebut yaitu usia 2, 4, dan 6 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap.

Untuk DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun

Imunisasi ini berfungsi dalam pencegahan penyakit Difteri yang disebabkan oleh bakteri Corrynebacterium difteriae yang menyerang dan menyumbat saluran nafas. Racun bakteri tersebut dapat melumpuhkan otot jantung dan serabut syaraf.

Selain itu juga dapat mencegah penyakit Penyakit Pertusis disebabkan oleh kuman pertusis yang menyerang saluran pernafasan atas. Jika saluran pernafasan atas diserang biasanya akan timbul batuk yang hebat, panjang dan terus menerus, sehingga bisa menimbulkan infeksi telinga dalam dan radang paru.

Selanjutnya adalah dapat memberi pencegahan terhadap penyakit tetanus disebabkan oleh kuman clostridium tetani yang masuk melalui luka yang kotor, gigi yang berlubang, infeksi telinga dalam, dan  pemotongan tali pusat yang tidak steril. Racun dari tetanus ini dapat menyerang syaraf otot yang dapat menyebabkan mulut sukar terbuka, tubuh kejang dan kaku.


5. Jadwal Imunisasi pneumokokus (PCV)

Vaksin pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Imunisasi Penumokokus (PVC) berguna dalam pencegahan Penyakit Pneumokokus yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus penumonia  yang dapat menyebabkan radang paru, radang selaput otak dan infeksi darah

6. Jadwal Imunisasi Rotavirus

Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia > 15 minggu), dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 24 minggu.

Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia > 15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.

Imunisasi Rotavirus dapat memberikan manfaat mencegah terjadinya Penyakit Diare yang disebabkan rotavirus biasanya terjadi pada anak usia 6 sampai 24 bulan, dan puncaknya biasanya terjadi di usia 9 sampai 12 bulan.

Biasanya penyakit ini timbul didahului dengan gejala demam, muntah dan diare berair yang dapat menyebabkan dehidrasi berat bahkan bisa sampai pada kematian

7. Jadwal Imunisasi Influenza

Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis 0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL

Imunisasi tersebut memiliki kegunaan dalam pencegahan Penyakit Infuenza yang disebabkan oleh virus influenza A dan B yang menyerang saluran nafas, sehingga dapat menimbulkan flu berat

8. Jadwal Imunisasi Campak

Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah mendapatkan MMR

Imunisasi tersebut mempunyai kegunaan dalam pencegahaan Penyakit Campak yang disebabkan oleh virus campak dan penyakit ini ini pun dapat sangat mudah menyebar keseluruh bagian tubuh. Gejalanya dapat berupa demam, kemerahan di kulit dan dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga atau pneumonia

9. Jadwal Imunisasi MMR/MR

Vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) adalah campuran tiga jenis virus yang dilemahkan, yang disuntikkan untuk imunisasi melawan campak (measles), gondongan (mumps) dan rubella (german measles).

Penyakit Campak disebabkan oleh virus campak dan penyakit ini ini pun dapat sangat mudah menyebar keseluruh bagian tubuh. Gejalanya dapat berupa demam, kemerahan di kulit dan dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga atau pneumonia

Penyakit Mumps atau gondungan ini disebabkan oleh paramyxovirus yang disebarkan melalui udara. Mumps atau gondongan ini bisa dikatakan ringan tetapi jika terlambat diatasi dapat menyebabkan komplikasi meningitis dan encephalitis

Penyakit Rubella disebabkan oleh virus Rubella. Rubela pada anak merupakan penyakit ringan dan dapat sembuh total dengan cepat, tetapi bila terjadi pada ibu hamil dapat menimbulkan kecacatan janin dalam kandungan

Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR/MR

10. Jadwal Imunisasi Varisela

Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.

Imunisasi VArisela merupakan imunisai yang dapat menegah terjadinya Penyakit Varisela/Cacar air merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus varisela zoster. Cacar air tersebut dapat muncul kembali setelah bertahu-tahun kemudian, yaitu menjadi herpes zoster.

11. Jadwal Imunisasi HPV

Vaksin human papiloma virus (HPV) diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV tetravalen dengan jadwal 0,2,6 bulan.

 Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis

Imunisasi HPV dapat menegah terjadinya Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker serviks. Menurut penelitian, di Indonesia kanker serviks merupakan kanker pembunuh perempuan nomer satu. Setiap perempuan beresiko terkena kanker serviks tanpa mengenal usia dan gaya hidup

12.Jadwal Imunisasi Apanese Encephalitis (JE)

Vaksin Japanese encephalitis (JE) diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya

13. Jadwal Imunisasi Dengue 

Vaksin dengue diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan.

Imunisasi Dengue diberikan, memiliki manfaat dalam mencegah Penyakit demam dengue / Demam Berdarah yang disebabkan oleh virus dengue yang penyebaran atau penularannya didapat dari gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albocpitus

Itulah 13 Vaksin yang semestinya diberikan kepada anak-anak dan juga sesuai dengan keadaan daerah tinggal masing-masing.

Efek Samping Pemberian Imunisasi / Vaksinasi 

Sering kita dengar bahwa setelah kita melakukan vaksinasi tertentu, kita bersiap-sia dengan kondisi tertentu yang mengganggu, sehingga biasanya kita diberikan obat pencegahan terhadap efk tersebut.

Namun pada dasarnya effek tersebut jarang terjadi, dan yang terjadi hanya sebatas efek ringan yang terjadi dalam pemberian vaksin tertentu, seperti Demam ringan,  atau Kulit kemerahan, nyeri, serta pembengkakan ringan yang terjadi di daerah bekas suntikan . Pada kesempatan tertentu kita sering jumapi setelah pemberian vaksinasi biasanya dibawakan obat pereda demam seperti paracetamol atau sejenisnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut:
  • Pastikan selalu memberi tahu kepada dokter, terhadap jenis-jenis obatan yang menjadi alergi terhadap anak atu orang tersebut, sehingga dapat mengurangi terjadinya kejadian alergi obat.
  • Kondisi dari efek samping tersebut, biasanya membuat si anak atau orang tertentu merasa tidak nyaman. Jika hal tersebut berkelanjutan dan terlihat serius seperti kesulitan bernapas serta demam tinggi yang jarang terjadi, silahkan lagsung konsultasikan ke dokter.

Berikut Tips Seputar Imunisasi yang baik dilakukan bagi anda.


  • Lindungi keluarga anda sejak dini dengan segera lakukan vaksinasi
  • Sebelum melakukan vaksinasi perikasa kondisi anak, bila anak dalam kondisi sakit tidak dianjurkan untuk imunisasi. maka konsultasikan dulu dengan dokter atau bidan bagian klinik Imunisasi di rumah sakit atau puskesmas terkait sebelum melakukan imunisasi
  • Pastikan imunisasi dilakukan sesuai jadwal. Jangan lupa meminta buku/kartu imunisasi sebagai pemantauan jadwal imunisasi. Jangan takut bila terlambat dari jadwal imunisasi. Konsultasikan dengan bagian Klinik Imunisasi/dokter.
  • Pastikan Semua kegiatan Imunisasi tercatat dalam buku/kartu imunisasi
  • Perhatikan juga, bila setelah Imunisasi terjadi reaksi alergi atau efek samping yang serius, segera informasikan ke dokter.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close